PAKET UMROH BULAN FEBRUARI MARET APRIL MEI 2018




Artikel lainnya »

Sebuah truk kontainer yang bernomor polisi B 9147 Q yang telah membawa alat berat jenis pontonpile tergelincir di Jalan Mitra Sunter Boulevard, Sunteragung, Tanjung Priok, Jakarta Utara, Jumat (14/3).

Akibatnya, sejak pukul 06.00 pagi WIB, akses keluar tol sunter dan Jalan Boulevar Barat Kelapa Gading menuju Sunter dialihkan.

Peristiwa tersebut telah terjadi sekitar pukul 04.00 WIB. Namun untuk dapat menghindari stagnasi lalu lintas, Kepolisian telah melakukan pengalihan sejak pukul 06.00 WIB.

Sopir truk, Badri yang berusia (33) tahun , telah mengatakan awalnya tengah mengemudikan truk dari arah Ciputat menuju proyek di Bilangan Kelapa Gading. Namun saat baru turun dari pintu keluar Tol Layang Wiyoto Wiyono, Sunter dan berbelok ke arah Jalan Mitra Sunter Boulevard, alat berat yang dibawa goyang lalu terjatuh ke jalanan.

"Saya sempat stabilkan dan truk sudah lurus jalannya. Tapi karena ada tanah di bak jadi licin dan pontonpile tergelincir," ujarnya, Jumat (14/3).

Dia kesulitan mengevakuasi sendiri. Pengangkatan menggunakan dongkrak hidrolik pun gagal. Bahkan karena tidak mampu menahan beban, dongkrak patah. Hingga pukul 10.00 WIB, pemindahan alat berat masih terus diupayakan.

Kanit Patroli Jalan Raya (PJR) Jaya Dua, Satlantas Polda Metro Jaya, AKP Sigit P, telah mengatakan pengalihan terpaksa dilakukan. Hal itu agar tidak menyebabkan stagnasi lalu lintas yang mengarah ke lokasi.

"Dari pada macet total dan tidak bergerak. Akhirnya sejak pukul 06.00 WIB pagi tadi kita lakukan pengalihan," ujarnya.

Alat berat pontonpile jatuh, akses ke Sunter Boulevard dialihkan

saco-indonesia.com, Sebanyak 81 makam di TPU Desa Cihuni, Kecamatan Pagedangan, Kabupaten Tangerang, telah dibongkar secara diam-diam. Diduga, pembongkaran itu telah dilakukan oleh orang suruhan pengembang untuk dapat membangun perumahan mewah.

Menurut warga Desa Cihuni, Safrudin, pengembang perumahan mewah juga sempat melakukan negosiasi untuk dapat memindahkan makam tersebut. Namun negosiasi untuk ruislag itu telah dimentahkan warga.

"Tapi, warga telah menolak atas pemindahan makam yang luasnya telah mencapai 700 meter tersebut untuk diruislagh," kata Safrudin, Minggu (2/2) kemarin.

Safrudin juga mengungkapkan, atas kasus pembongkaran makam tersebut, warga telah menangkap tiga orang yang diduga suruhan pengembang tersebut. Ketiga orang pembongkar makam itu diserahkan ke Polsek Pagedangan, Legok, Banten.

"Tiga pelaku tersebut yang berinisial I, D dan A," ungkap dia.

Informasi yang telah berhasil dihimpun, 81 mayat sudah dibongkar dan dipindahkan pelaku ke pemakaman lainnya, tanpa sepengetahuan warga Desa Cihuni. Saat ini pelaku juga sudah diamankan di Polsek Pagedangan.

Kepala Polsek Pagedangan AKP Murodih telah membenarkan atas kejadian tersebut. "Tersangka telah berhasil digelandang warga dan kini kami amankan dan kemudian akan diproses secara hukum," paparnya.


Editor : Dian Sukmawati

81 MAYAT DI TPU CIHUNI DIPINDAH SECARA DIAM-DIAM

Di tempat kerja, sekitar 30% dari tagihan listrik yang telah dihabiskan pada pencahayaan ruang. Mengurangi jumlah konsumsi juga dapat menghemat banyak uang dan juga dapat membantu mengurangi jejak karbon Anda. Ada tiga cara di mana seseorang dapat mengurangi jumlah energi yang dikonsumsi dari pencahayaan :

Kurangi jumlah lampu: tempat kerja Kebanyakan terlalu berlebihan menyala. Hal ini biasanya sebagai hasil dari pencahayaan tukang lebih menentukan persyaratan atau lebih jahat, menjual lampu lebih untuk dapat meningkatkan keuntungan mereka dari fit-out. Sebuah tempat kerja yang khas membutuhkan kualitas cahaya yang baik (hangat, tidak terlalu putih) yang telah memiliki output pencahayaan approx. 600 lux. Saya menantang Anda untuk mendapatkan lux meter dan menguji keluaran cahaya Anda – kemungkinan dalam 1000s tersebut. Untuk dapat mengatasi masalah yang satu ini cukup dapat hanya delamp (menghapus lampu) dari daerah yang lebih dari menyala. Jika salah satu dihapus 50 36W lampu neon dari kantor, tabungan akan setara dengan 2,5 ton CO2e (yaitu setara dengan menghapus sebuah mobil ukuran rata-rata dari jalan selama setahun)

Kurangi jumlah lampu yang tersisa pada: Biasanya lampu di tempat kerja yang tersisa di dalam kamar kosong / ruang pertemuan dan keluar dari jam kantor. Instalasi sensor cahaya (PIR, gerakan, audio atau sensor luminance) atau menjalankan matikan kampanye dapat secara dramatis mengurangi jumlah waktu yang tersisa pada lampu di ruang yang tidak terpakai

Beralih ke teknologi pencahayaan alternatif yang lebih efisien: Saat ini ada banyak energi alternatif pencahayaan efisien yang telah memberikan output cahaya yang cocok untuk sebagian kecil dari konsumsi. Apakah saya mendukung – waktu berikutnya Anda menghidupkan lampu pijar atau lampu halogen, meletakkan tangan Anda dekat cahaya dan merasakan panas. Ini akan terik panas. Mengapa? Karena 90% dari energi yang digunakan untuk dapat menghasilkan cahaya pada kenyataannya diubah menjadi panas. Hal ini sangat tidak efisien – menggunakan energi untuk dapat menciptakan cahaya bahwa sebenarnya menciptakan panas. Alternatif yang efisien energi yang baik termasuk lampu neon kompak (CFL) yang dapat menggantikan incandescents, dan LED (Light Emitting Dioda) yang dapat menggantikan halogen. Lampu LED masih teknologi yang relatif baru lahir Namun, ada sejumlah produk baik yang satu sekarang dapat mengambil di toko DIY lokal yang bertahan lebih lama daripada teknologi yang lebih tua dan memberikan output cahaya yang layak.

Rekomendasi saya adalah untuk dapat menguji beberapa lampu untuk kesesuaian sebelum berinvestasi.

Jika Anda telah memiliki tempat kerja sangat terang itu benar-benar menghabiskan waktu berharga dan usaha untuk mendapatkan kebutuhan pencahayaan yang benar.

BAGAIMANA MEMILIH LAMPU HEMAT ENERGI
Cabe Pandaisikek yang masih muda sekitar usia 3,5 bulan. CABE Adalah salah satu komoditi Andalan Di nagari Pandaisikek,80% lahan pertanian di Pandaisikek di tanami dengan cabe. Cabe Pandai Sikek Biasa juga disebut dengan Cabe keriting, Bentuknya kecil dan panjang berbeda dengan cabe jawa , Medan Atau daerah lain Di Indonesia.Tidak hanya bentuk, rasanya pun jauh lebih pedas daripada cabe di daerah lain. Pembudi dayaan cabe dipandaisikek dilakukan dengan 2 cara yaitu tradisional dan teknologi, Tapi kali ini kita akan membahas tehnik cocok tanam cabe secara modren/teknologi dan menggabungkan pengunanan Kimia beserta Organik. 1. Tata cara pengolahan Lahan Bentuk Petaka Cabe Keriting Lahan yang kita pergunakan Kali ini kira-kira berukuran 450 M persegi Atau sekitar 10 Kg Plastik Mulsa Dengan pH tanah Sekitar 5pH, Yang sudah terbebas dari gulma atau sudah bersih. Tentu kita juga bertanya Apa itu pH…….? pH (potential of hydrogen) yaitu tingkat Basa dan keasaman tanah yang menentukan tingkat kesuburan tanah. Bentuk dan ukuran petak Cabe Lahan terlebih dahulu kita buat petakanya dengan jarak 170 cm. petakan awal kita buat dengan kedalaman sekitar 10 cm dengan lebar 50 cm atau hanya untuk membentuk lahanya saja, setelah selesai kita sudah bisa menaburkan pupuk kandang ( pupuk kandang yang dipergunakan kali ini adalah yang berasal dari Tahi Ayam sebagai bahan Organiknya ) dengan ukuran 20 karung sisa pakan ayam. Penebaran dilakukan hingga merata diatas petakan tadi,Setelah selesai kita tunggu sekitar 7-10 hari untuk mendinginkan pupuk kandang tadi juga supaya merata dengan tanah, barulah nanti bisa di lakukan proses berikutnya. Petakan yang sudah didiamkan tadi Langsung saja ditabur dengan pupuk Kimia. Pupuk yang kita gunakan kali ini adalah NPK dengan kadar Hara 15% Nitrogen 9 % Fosfat 20% Kalium Oksida 2 % Magnesium Oksida 3,8 % Sulfur 0,015 % Baron 0,02 % Mangan 0,02 % Seng Dengan ukuran satu karung sekitar 50 Kg, Penaburan dilakukan hingga merata. Setelah itu barulah dilanjutkan dengan memperdalam petakan (hingga mencapai 40 cm) dan menimbun pupuk yang sudah di tabur tadi dengan tingkat kegemburan sekitar 20-30 cm (tanah benar-benar harus halus),Kegemburan dan kedalaman pupuk yang di timbun tadi sangatlah penting karena ini di maksudkan supaya akar cabe nantiknya gampang mencari makan, dan dalamnya pupuk di timbun supaya pada saat cabe berusia sekitar 2,5 bulan dia mendapatkan cadangan makanan yang banyak dan akan lebih mempercepat pertumbuhan hinga berkembang dengan baik hingga panen nanti. Setelah pengemburan selesai langkah selanjutnya membulatkan petakan tadi seperti setengah lingkaran dengan mengunakan rol atau kayu kira 1m, bentuk media tanam hinga bagus dan rapi sebelum dipasang plastik mulsa yang telah di sediakan. Setelah bulat di semprot dengan mengunakan pestisida pembunuh hama tanah, bisa juga menggunakan organik yang banyak beredar di pasaran. bentuk pemasangan plastik mulsa Untuk Pemasangan Mulsa kita membutuhkan bambu yang di belah kecil-kecil supaya mudah di bengkokan dengan ukuran panjang sekitar 20 cm lebar 1cm dan ketebalan 3 mm.Bambu ini digunakan utuk penyangga (samek) di tiap ujung dan pinggiran plastik mulsa. Pemasangan sebaiknya di lakukan pada saat cuaca panas, dengan tujuan supaya mulsa gampang ditarik hingga meregang dan pada cuaca dingin mulsa ini akan kelihatan lebih rapi dan kuat pasangannya. Setelah pemasangan selesai lahan sebaiknya didiamkan pula beberapa hari untuk membunuh hama yang masih berada di dalam petakan. Berikutnya penanaman, sebelum kita tanam tentu terlebih dahulu kita ketahui tentang pembibitan. 2. Pembibitan Cabe bibit cabe berusia 15 hari Bibit: Dipilih dari induk yang berkualitas tinggi berdasarkan ukuran bentuk dan daya tahan.Biji cabe dipisahkan dari kulit dan dikeringkan beberapa waktu, sebelum di semaikan sebaiknya bibit di beridulu pestisida yang berbentuk tepung Seperti Antracol,kocide dll supaya waktu penyemaian tidak dimakan oleh hama. Lahan Penyemaian : Lahan yang sudah bersih di bikin petakan kira-kira berukuran panjang 5 m dan lebar 1,2m untuk 4000 biji bibit, Kemudian digemburkan dan di beri pupuk kandang (4 kg keadaan kering) yang sudah dicampur dengan sedikit pupuk NPK (2 ons) dan ditebar hingga merata diatas petakan. Cara menyemaikan Bibit : bibit juga ditebar hingga merata diatas petakan yang sudah diberi campuran pupuk tadi kemudian di timbun tipis dengan tanah halus. Kemudian ditutup dengan daun pisang hingga rata sampai bibit ini tumbuh nantinya, kira-kira 7-10 hari. Bibit yang sudah tumbuh di beri atap dengan menggunakan plastik transparan yang banyak di jual di pasara. Ini supa bibit terlindung dari hujan dan panas matahari lang sung Jangan lupa bibit disiran / di semprot ( bila di perlukan) hinga usia 45 hari. Bibit dengan ketinggian sekitar 10-15 cm sangat baik untuk dipindahkan kemedia tanam. 3. Penyiapan Media Tanam Dari lahan / petakan yang sudah di siapkan sebelumnya kita sudah bisa memulai penanaman, tetapi sebelumnya plastik mulsa yang sudah di pasang di lubang dengan mengunakan sebuah alat yang bisa di bikin sendiri bahkan ada juga di jual dipasaran. Alat ini bisa di buat dengan sebuah kaleng susu dengan ukuran diameter 6 cm yang di beri tangkai dengan kayu sebagai pegangan sementara di sekeliling kaleng tersebut di beri lubang dengan paku. Jarak tanam Cara menggunakan alat ini juga sederhana, Kaleng yang sudah berlubang tadi dimasukan bara tempurung kelapa sehingga kaleng akan panas dan siap di pergunakan. Mulsa di beri lubang dengan jarak 60-70 cm sementara untuk jarak disampingnya dibuat zikzak dengan jarak yang sama.Lahan barulah siap untuk d tanami.( usahakan penanaman dilakukan pada cuaca dingin karena plastik mulsa yang kena matahari bisa membuat bibit cabe tidak jadi hidup) 4. Cara Tanam Bibit cabe yang baru di tanam Penanaman Cabe tidak lah sulit, caranya sama dengan penanaman tumbuhan yang lain. Tapi untuk cabe, karena lahan telah disiapkan dengan pupuk dan cadangan makanan yang cukup kita hanya tinggal mencabutnya di persemaian dan langsung di tanam pada mulsa yang telah di lubang. Untuk menanam Cabe ini cukup satu batang untuk tiap lubang, setelah beberapa waktu dan juga dirawat dengan baik akan menjadi sebatang cabe yang berkualitas tinggi. Pada Contoh-contoh gambar yang telah kita tampilkan terlihat ada tanaman yang di tumpang sari,kebetulan kami menampilkan tanaman sayuran jenis sawi. Untuk tumpang sari bisa ditanam jenis sayuran yang lain, asal usia tanaman yang di tumpang itu berusia cepat (sekitar 1,5 bulan. Tapi kali ini kita tidak membahas pokok permasalahan tumpang sari jadi kita bahas saja lain waktu.kita masuk ketahap Berikutnya yaitu: 5. Perawatan Apapun yang kita usahakan di dalam pertanian,perawatan adalah hal yang sangat penting, kita masuk terlebih dahulu pada: A. Penyemprotan Penyemprota bisa menggunakan pestisida kimia ataupun organik, Penyemprotan dilakukan rutin minimal i kali seminggu. Jenis racun yang kita gunakan tergantung pada keadaan tanaman cabe itu sendiri dan cuaca di daerah masing-masing. kenapa demikian , Keadaan iklim juga mempengaruhi jenis pestisida kenapa demikian, ada sebagian pesrisida yang di tentukan dengan cuaca untuk penggunaanya. Jenis Pestisida yang sering di pergunakan adalah sebagai berikut – – Penyemprotan dilakukan sampai cabe habis di panen. B. Membuang tunas batang ( Merempel ) Pembuangan tunas batang ( Merempel ) Untuk kwalitas cabe yang bagus tunas batang haruslah dibuang , karena nantinya cabe ini juga akan bercabang dan cabangnya inilah yang akan di biarkan besar. Kira- kira usia tanaman cabe berusia 20 hari, pembuang tunas yang pertama kitalakukan,20 hari berikutnya pembuangan yang ke dua dan untuk terakhir menjelang pengikatan batang cabe ke tiang penyangga. sebaiknya dalam melakukan pembuangan tunas kita mengunakan gunting yang bersih. C. Tiang Penyangga Tiang Penyangga dibuat dari bambu dengan ukuran panjang 1 m lebar 3 cm dan ketebalan 2 cm.Pada ujung tiang tadi di runcing supaya gampang menancapkanya ketanah. Pemasangan tiang penyangga ini pada usia cabe 1 bulan dengan jarak sekitar jarak 5 cm dari rumpun cabe, jangan terlalu dekat karena kalau dekat bisa merusak akar yang sudah mulai menjalar. Fungsi dari tiang ini adalah agar saat cabe sudah besar rumpunya tidak digoyang oleh angin karena sudah kita ikat longgar antara batang cabe dengan tiang itu sendiri. Pengikatanya bisa kitalakukan pada usia cabe 2 bulan. 6. Panen Cabe masak siap untuk di panen Kita sudah bisa panen cabe ini di usia 4,5 bulan Tergantung apa buah cabenya sudah masak / belum. Dalam Melakukan pemanenan Jangan lupa mengambil buah yang rusak walaupun masih muda karena akan menentukan kwalitas dan daya tahan usia panen cabeBERCOCOK TANAM CABE

Pengertian jual Buku Teks

Pengertian jual buku teks pelajaran adalah ”buku acuan wajib” yang digunakan di sekolah, memuat materi pembelajaran yang diharapkan mampu meningkatkan keimanan dan ketakwaan, budi pekerti dan kepribadian, kemampuan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, kepekaan dan kemampuan estetis. Persoalannya sekarang, kita “dapat menggunakan” di dalam Permen mengindikasikan bahwa Depdiknas tidak tegas dalam ‘memerintahkan’ para guru untuk menyiapkan bahan ajar mereka sendiri, atau setidaknya, memperkaya buku teks yang mereka pakai di kelas dengan buku-buku atau sumber-sumber yang lain.

Oleh karena itu, jika belum mampu mengembangkan bahan ajar sendiri, atau kebijakan sekolah kebetulan mengharuskan guru untuk memberlakukan satu buku teks bagi siswa-siswanya, maka disarankan berikut ini beberapa hal yang patut dipertimbangkan guru atau sekolah terkait bagaimana memilih buku teks, yaitu: (1) harga buku, (2) ketersediaan buku di pasaran, (3) desain dan tata wajah buku, (4) metodologi pembelajaran yang dipakai, (5) keterampilan bahasa, (6) urut-urutan silabus, (7) topik-topik yang dipilih, (8) buku mengandung atau tidak unsur diskriminasi terkait SARA atau jender, dan (9) ketersediaan dan kualitas buku panduan guru (teacher’s guide).

Ada yang mengatakan bahwa “buku teks adalah rekaman pikiran rasial yang disusun buat maksud-maksud dan tujuan-tujuan intruksional” (Hall-Quest, 1915).Ahli yang lain menjelaskan bahwa “buku teks adalah buku standar/buku setiap cabang khusus studi” dan dapat terdiri dari dua tipe yaitu buku pokok/utama dan suplemen/tambahan (Lange, 1940).

Lebih terperinci lagi, ada ahli yang mengemukakan bahwa “buku teks adalah buku yang dirancang buat pengguanaan di kelas, dengan cermat disusun dan disiapkan oleh para pakar atau ahli dalam bidang itu dan diperlengkapi dengan sarana-sarana pengajaran yang sesuai dan serasi” (Bacon, 1935). Dan ahli yang lain lagi mengutarakan bahwa “buku teks adalah sarana belajar yang biasa digunakan di sekolah-sekolah dan diperguruan tinggi untuk menunjang suatu program pengajaran dalam pengertian modern dan yang umum dipahami (Buckingham, 1958 : 1523)”. Dari Telaah Buku Teks, Tarigan & Tarigan, 1986.

Buku teks atau buku pelajaran berisi informasi tentang ilmu pengetahuan atau pelajaran tertentu, mulai dari SD hingga perguruan tinggi. Buku teks ini termasuk dalam golongan nonfiksi. Buku teks sering dipergunakan oleh para ilmuwan untuk meyebarkan hasil penelitian atau penemuan mereka. Buku teks pelajaran merupakan buku yang dipakai untuk memelajari atau mendalami suatu subjek pengetahuan dan ilmu serta teknologi atau suatu bidang studi, sehingga mengandung penyajian asas-asas tentang subjek tersebut, termasuk karya kepanditaan (scholarly, literary) terkait subjek yang bersangkutan.

Jumat, 27 Maret 2009

Definisi Buku Pelajaran

Buku dalam arti luas mencakup semua tulisan dan gambar yang ditulis dan dilukiskan atas segala macam lembaran papyrus, lontar, perkamen dan kertas dengan segala bentuknya: berupa gulungan, di lubangi dan diikat dengan atau dijilid muka belakangnya dengan kulit, kain, karton dan kayu. (Ensiklopedi Indonesia (1980, hlm. 538))

H.G. Andriese dkk menyebutkan buku merupakan “informasi tercetak di atas kertas yang dijilid menjadi satu kesatuan”.

Unesco pada tahun 1964, dalam H.G. Andriese dkk. Memberikan pengertian buku sebagai “Publikasi tercetak, bukan berkala, yang sedikitnya sebanyak 48 halaman”.

Sesuai dengan empat definisi buku di atas, maka buku diartikan sebagai kumpulan kertas tercetak dan terjilid berisi informasi dengan jumlah halaman paling sedikit 48 halaman yang dapat dijadikan salah satu sumber dalam proses belajar dan membelajarkan.

Definisi buku pelajaran atau buku teks pelajaran menurut Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 11 Tahun 2005 : ”Buku pelajaran adalah buku acuan wajib untuk digunakan di sekolah yang memuat materi pembelajaran dalam rangka peningkatan keimanan dan ketakwaan, budi pekerti dan kepribadian, kemampuan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, kepekaan dan kemampuan estetis, potensi fisik dan kesehatan yang disusun berdasarkan standar nasional pendidikan”.

Menurut Hartiadi Budi Santoso dari Deloitte Tax Solutions, buku pelajaran umum adalah buku-buku pelajaran pokok dan penunjang yang digunakan oleh TK, SD, SMP, SMU, universitas yang mendukung kurikulum sekolah yang bersangkutan.

Pengertian Buku Teks

Pengertian buku teks pelajaran adalah ”buku acuan wajib” yang digunakan di sekolah, memuat materi pembelajaran yang diharapkan mampu meningkatkan keimanan dan ketakwaan, budi pekerti dan kepribadian, kemampuan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, kepekaan dan kemampuan estetis, potensi fisik dan k Persoalannya sekarang, kata “dapat menggunakan” di dalam Permen mengindikasikan bahwa Depdiknas tidak tegas dalam ‘memerintahkan’ para guru untuk menyiapkan bahan ajar mereka sendiri, atau setidaknya, memperkaya buku teks yang mereka pakai di kelas dengan buku-buku atau sumber-sumber yang lain.

Oleh karena itu, jika belum mampu mengembangkan bahan ajar sendiri, atau kebijakan sekolah kebetulan mengharuskan guru untuk memberlakukan satu buku teks bagi siswa-siswanya, maka disarankan berikut ini beberapa hal yang patut dipertimbangkan guru atau sekolah terkait bagaimana memilih buku teks, yaitu: (1) harga buku, (2) ketersediaan buku di pasaran, (3) desain dan tata wajah buku, (4) metodologi pembelajaran yang dipakai, (5) keterampilan bahasa, (6) urut-urutan silabus, (7) topik-topik yang dipilih, (8) buku mengandung atau tidak unsur diskriminasi terkait SARA atau jender, dan (9) ketersediaan dan kualitas buku panduan guru (teacher’s guide).

Ada yang mengatakan bahwa “buku teks adalah rekaman pikiran rasial yang disusun buat maksud-maksud dan tujuan-tujuan intruksional” (Hall-Quest, 1915).

Ahli yang lain menjelaskan bahwa “buku teks adalah buku standar/buku setiap cabang khusus studi” dan dapat terdiri dari dua tipe yaitu buku pokok/utama dan suplemen/tambahan (Lange, 1940).

Lebih terperinci lagi, ada ahli yang mengemukakan bahwa “buku teks adalah buku yang dirancang buat pengguanaan di kelas, dengan cermat disusun dan disiapkan oleh para pakar atau ahli dalam bidang itu dan diperlengkapi dengan sarana-sarana pengajaran yang sesuai dan serasi” (Bacon, 1935)

Dan ahli yang lain lagi mengutarakan bahwa “buku teks adalah sarana belajar yang biasa digunakan di sekolah-sekolah dan diperguruan tinggi untuk menunjang suatu program pengajaran dalam pengertian modern dan yang umum dipahami (Buckingham, 1958 : 1523)”. Dari Telaah Buku Teks, Tarigan & Tarigan, 1986.

Buku teks atau buku pelajaran berisi informasi tentang ilmu pengetahuan atau pelajaran tertentu, mulai dari SD hingga perguruan tinggi. Buku teks ini termasuk dalam golongan nonfiksi. Buku teks sering dipergunakan oleh para ilmuwan untuk meyebarkan hasil penelitian atau penemuan mereka.

Buku teks pelajaran merupakan buku yang dipakai untuk memelajari atau mendalami suatu subjek pengetahuan dan ilmu serta teknologi atau suatu bidang studi, sehingga mengandung penyajian asas-asas tentang subjek tersebut, termasuk karya kepanditaan (scholarly, literary) terkait subjek yang bersangkutan.

Buku teks pelajaran adalah buku yang berisi kumpulan lembaran-lembaran kertas yang berisi tulisan sehingga dapat digunakan sebagai acuman pembelajaran materi di sekolah.

http://cahaya-fajeri.blogspot.com/2010/03/buku-teks.html

Rekonstruksi Buku Teks Sekolah

Oleh:

M Jamaludin (Pengamat perbukuan dan Direktur Yayasan Buku Cerdas, Jakarta).

Buku pelajaran (textbook) merupakan media pembelajaran yang dominan bahkan sentral dalam sebuah sistem pendidikan. Ia adalah kendaraan utama transfusi materi kurikulum ke hadapan siswa. Karena perannya yang demikian sentral itu maka kemajuan dan kemunduran pendidikan suatu bangsa dapat dilacak dari tinggi-rendahnya mutu buku teks yang dibaca oleh anak didik.

Sebuah studi yang dilakukan oleh Kathy Chekley (1997), misalnya, menemukan bahwa ketertinggalan siswa Amerika dari siswa Jepang dalam penguasaan matematika dan sains berawal dari buku-buku teks sekolah Amerika yang cenderung a mile wide and an inch deep. Buku-buku teks sekolah Amerika dipenuhi oleh halaman-halaman tanpa makna (meaningless) dan terlalu detail terhadap konsep-konsep kecil, sementara buku-buku teks Jepang menganut prinsip less is more (sedikit itu banyak). Untuk pelajaran fisika-biologi kelas 6, misalnya, buku teks Jepang hanya memuat 6 topik sedangkan Amerika 65 topik. Dihadapkan dengan kenyataan ini Amerika-melalui Project 2061 yang diluncurkan tahun 2001-memberi perhatian besar terhadap penulisan buku-buku teks yang berorientasi pada kedalaman substansi dan proses.

Bagaimana dengan buku-buku teks sekolah di Indonesia? Keadaannya lebih parah. Di samping tingkat kepadatan materi yang tinggi, buku teks sekolah Indonesia menyimpan cacat isi (content) yang mendasar. Sebuah riset yang dilakukan oleh Sri Redjeki (1997), misalnya, menunjukkan bahwa buku-buku pelajaran yang dikonsumsi pelajar Indonesia tertinggal 50 tahun dari perkembangan terbaru sains modern. Hal yang sama terjadi juga pada pelajaran lain termasuk pelajaran agama. Buku pelajaran agama bahkan lebih menyerupai buku teks subjek matematika atau fisika yang sarat dengan rumus dan lebih mementingkan peran akal ketimbang rumusan moralitas dalam proses dan praktik.

Ini terlihat secara kasatmata karena pelajaran agama dinilai dengan satuan angka. Untuk memperoleh nilai bagus dalam pelajaran agama, seorang anak bahkan harus menghafal sedemikian banyak soal bahkan dalam bentuk multiple choice. Bisa dibayangkan, buku teks agama kita sangat tidak menarik karena anak dikejar-kejar dengan nilai, bukan proses penanaman etika dalam proses belajar keseharian.

Memang banyak muncul buku teks terbitan terbaru, apalagi dengan kebijakan e-book baru-baru ini, akan tetapi isinya tidak fokus dan sering kali merupakan pengulangan-pengulangan. Yang terjadi sesungguhnya adalah sebuah siklus daur ulang materi-materi lama dengan referensi lama pula-untuk tidak mengatakan kadaluwarsa-sehingga perkembangan pengetahuan siswa pada dasarnya jalan di tempat. Dengan kondisi ini, harapan agar siswa bisa mengantisipasi masa depan menjadi slogan belaka. Bagaimana mungkin mengharapkan mereka mampu mengantisipasi masa depan jika pelajaran-pelajaran yang disodorkan justru tidak responsif terhadap perkembangan yang sedang terjadi?

Dalam studi Dedi Supriadi (Anatomi Buku Sekolah di Indonesia, 2000) terungkap bahwa buku pelajaran (textbook) merupakan satu-satunya buku rujukan yang dibaca oleh siswa, bahkan juga oleh sebagian besar guru. Hal ini setidaknya menunjukkan dua hal. Pertama, ketergantungan siswa dan guru yang begitu besar terhadap kelemahan mendasar dunia pendidikan nasional, tetapi pada sisi lain menginspirasikan treatment strategis bagi pengembangannya. Fenomena ini sesungguhnya menyodorkan satu hal urgen, buku paket bisa menjadi katalisator (baca jalan pintas) peningkatan mutu pendidikan Indonesia yang sedang terpuruk.

Ada beberapa alasan mengapa buku paket menjadi alternatif strategis-akseleratif pembangunan kembali dunia pendidikan Indonesia yang sudah bangkrut. Pertama, kualitas guru yang sebagian besar tidak memadai. Sudah menjadi pengakuan umum bahwa rendahnya kualitas guru Indonesia-karena beberapa sebab yang memang tidak kondusif bagi mereka untuk berkembang dan profesional dalam bidangnya-adalah salah satu titik lemah pendidikan nasional.

Rendahnya mutu guru salah satunya disebabkan oleh masih adanya angka guru mismatch dan underqualified yang relatif tinggi. Beberapa usaha telah dilakukan untuk meningkatkan profesionalisme guru seperti in-service training, sertifikasi, atau bahkan program pascasarjana. Tetapi usaha semacam ini, di samping sulit menjamin kualitas hasilnya, juga membutuhkan biaya besar dan waktu lama.

Di tengah kondisi yang demikian, perlu dicari altematif yang paling mungkin untuk menolong siswa dalam jangka pendek, dan tanpa membutuhkan waktu terlalu lama. Dalam hal ini, kehadiran buku pelajaran berkualitas yang dirancang dengan asumsi bisa dipahami dengan baik tanpa guru sekalipun dan, tentunya relevan terhadap temuan terbaru menjadi sangat mendesak.

Kedua, seperti yang diungkap di atas, buku paket merupakan satu-satunya buku rujukan yang dapat diakses (baca dibaca) oleh hampir seluruh siswa, bahkan juga oleh sebagian besar guru. Tragis sekali bila satu-satunya sumber belajar yang bisa diakses siswa ini tidak ditangani secara serius. Di samping itu, seperti yang ditunjukkan oleh laporan International Education Achievement tahun 1999, minat baca siswa di sekolah-sekolah Indonesia menempati nomor dua terakhir dari 39 negara yang disurvei. Tentunya, keadaannya akan semakin parah bila minat baca siswa yang minim tersebut diperburuk oleh rendahnya kualitas buku pegangan yang menjadi satu-satunya buku bacaan mereka. Mereka bisa jadi kehilangan minat terhadap buku.

Kelemahan buku-buku teks yang banyak beredar setidaknya mencakup lima hal, yaitu isi, bahasa, desain grafis, metodologi penulisan, dan strategi indexing. Seperti disinggung di atas, masalah isi mengandung dua cacat pokok, yakni terlalu banyak dan kadaluwarsa dan karena itu menyesatkan, sebab sudah tidak sesuai dengan penemuan-penemuan mutakhir. Hal ini setidaknya juga bisa dilihat dari referensi lama yang dipergunakan. Pengakuan para penyusun buku seperti diungkap Supriadi patut mendapat catatan Para penyusun bukannya menulis buku baru dengan referensi yang baru pula, melainkan menata ulang, mengemas kembali, atau merakit kembali materi-materi yang telah ada dalam buku-buku sebelumnya. Maka yang terjadi sebenarnya adalah reproduksi ulang kesalahan-kesalahan sebelumnya dengan kemasan baru.

Dari segi bahasa dan ilustrasi, kelemahan menonjol buku-buku teks adalah penggunaan bahasa dan ilustrasi yang tidak komunikatif sehingga tidak berhasil menyampaikan pesan inti buku. Dari segi metodologi penulisan, dapat dilihat dari tidak adanya nuansa yang bisa menggugah kesadaran afektif-emosional siswa, terutama dalam buku-buku sosial, moral, dan keagamaan. Pendekatan yang dipakai terlalu materialistik, kering, dan membosankan sehingga gagal menyampaikan pesan isi (content provision) sebuah buku.

Dari aspek strategi kemudahan untuk membaca, indexing hampir tak pernah ada dalam buku-buku teks sekolah anak-anak kita. Tidak seperti buku-buku teks semisal di Singapura dan Amerika yang kaya dengan indeks. Buku-buku teks kita miskin inisiatif bahkan untuk sebagian buku teks di perguruan tinggi. Dalam beberapa studi disebutkan, ketersediaan indeks dalam buku teks akan menaikkan tingkat analitis dan daya kritis anak terhadap setiap persoalan. Karena, dengan indeks seorang anak akan belajar bagaimana melihat kebutuhan pokok bahasan yang sesuai dengan minat dan keinginannya tanpa perlu waktu lama dalam memperolehnya.

Kelima masalah di atas bisa jadi berawal dari honor yang diterima oleh para penulis sangat kecil dan kadang tidak manusiawi. Bagaimana tidak, walau pun anggaran yang dialokasikan untuk buku sangat besar, yang diterima oleh penulis justru sangat tidak wajar. Menurut Rencana Proyek Pengembangan Buku dan Minat Baca, Dirjen Dikdasmen, misalnya, alokasi dana pengembangan buku tidak kurang dari US$350 juta. Dengan kurs rata-rata RplO.OOO per dolar, jumlah itu sama dengan Rp3,5 triliun lebih! idealnya, dengan dana yang demikian besar, pemerintah seharusnya bisa membangun semacam Kamp Konsentrasi Penulisan Buku Paket dengan membayar penulis-penulis andal dengan satu tema besar, Melahirkan buku-buku teks berkualitas bagi pembangunan masa depan bangsa.

Bila kita sepakat bahwa yang paling berkepentingan dalam pendidikan adalah siswa, dan,bahwa setiap usaha peningkatan mutu pendidikan bertujuan untuk memaksimalkan kemampuan siswa, sudah saatnya usaha yang diprioritaskan adalah yang paling mungkin dirasakan langsung oleh setiap siswa. Tidak bisa dimungkiri, buku paket merupakan salah satu-kalau tidak satu-satunya-media belajar yang bisa dipegang, dirasakan, bahkan menjadi teman tidur siswa-yang kebetulan sebagian besar miskin dan tak berdaya itu- di pojok-pojok kamar mereka. Merupakan kekeliruan fatal bila kemudian teman setia-nya tersebut tidak mampu mengantarnya ke gerbang pengetahuan dan masa depan yang lebih baik.

Karena perannya yang demikian sentral itu maka kemajuan dan kemunduran pendidikan suatu bangsa dapat dilacak dari tinggi-rendahnya mutu buku teks yang dibaca oleh anak didik. Sebuah studi yang dilakukan oleh Kathy Chekley (1997), misalnya, menemukan bahwa ketertinggalan siswa Amerika dari siswa Jepang dalam penguasaan matematika dan sains berawal dari buku-buku teks sekolah Amerika yang cenderung a mile wide and an inch deep. Buku pelajaran agama bahkan lebih menyerupai buku teks subjek matematika atau fisika yang sarat dengan rumus dan lebih mementingkan peran akal ketimbang rumusan moralitas dalam proses dan praktik.

Nilai strategis Dalam studi Dedi Supriadi (Anatomi Buku Sekolah di Indonesia, 2000) terungkap bahwa buku pelajaran (textbook) merupakan satu- satunya buku rujukan yang dibaca oleh siswa, bahkan juga oleh sebagian besar guru. Kedua, seperti yang diungkap di atas, buku paket merupakan satu-satunya buku rujukan yang dapat diakses (baca dibaca) oleh hampir seluruh siswa, bahkan juga oleh sebagian besar guru. Tentunya, keadaannya akan semakin parah bila minat baca siswa yang minim tersebut diperburuk oleh rendahnya kualitas buku pegangan yang menjadi satu-satunya buku bacaan mereka. Pengakuan para penyusun buku seperti diungkap Supriadi patut mendapat catatan Para penyusun bukannya menulis buku baru dengan referensi yang baru pula, melainkan menata ulang, mengemas kembali, atau merakit kembali materi-materi yang telah ada dalam buku-buku sebelumnya. Bila kita sepakat bahwa yang paling berkepentingan dalam pendidikan adalah siswa, dan,bahwa setiap usaha peningkatan mutu pendidikan bertujuan untuk memaksimalkan kemampuan siswa, sudah saatnya usaha yang diprioritaskan adalah yang paling mungkin dirasakan langsung oleh setiap siswa.

ARTIKEL BUKU TEKS
Joseph Lechleider

Mr. Lechleider helped invent DSL technology, which enabled phone companies to offer high-speed web access over their infrastructure of copper wires.

Joseph Lechleider, a Father of the DSL Internet Technology, Dies at 82

Pronovost, who played for the Red Wings, was not a prolific scorer, but he was a consummate team player with bruising checks and fearless bursts up the ice that could puncture a defense.

Marcel Pronovost, 84, Dies; Hall of Famer Shared in Five N.H.L. Titles

The magical quality Mr. Lesnie created in shooting the “Babe” films caught the eye of the director Peter Jackson, who chose him to film the fantasy epic.

Andrew Lesnie, Cinematographer of ‘Lord of the Rings,’ Dies at 59

Ms. von Furstenberg made her debut in the movies and on the Broadway stage in the early 1950s as a teenager and later reinvented herself as a television actress, writer and philanthropist.

Betsy von Furstenberg, Baroness and Versatile Actress, Dies at 83

Ms. Crough played the youngest daughter on the hit ’70s sitcom starring David Cassidy and Shirley Jones.

Suzanne Crough, Actress in ‘The Partridge Family,’ Dies at 52

Imagine an elite professional services firm with a high-performing, workaholic culture. Everyone is expected to turn on a dime to serve a client, travel at a moment’s notice, and be available pretty much every evening and weekend. It can make for a grueling work life, but at the highest levels of accounting, law, investment banking and consulting firms, it is just the way things are.

Except for one dirty little secret: Some of the people ostensibly turning in those 80- or 90-hour workweeks, particularly men, may just be faking it.

Many of them were, at least, at one elite consulting firm studied by Erin Reid, a professor at Boston University’s Questrom School of Business. It’s impossible to know if what she learned at that unidentified consulting firm applies across the world of work more broadly. But her research, published in the academic journal Organization Science, offers a way to understand how the professional world differs between men and women, and some of the ways a hard-charging culture that emphasizes long hours above all can make some companies worse off.

Photo
 
Credit Peter Arkle

Ms. Reid interviewed more than 100 people in the American offices of a global consulting firm and had access to performance reviews and internal human resources documents. At the firm there was a strong culture around long hours and responding to clients promptly.

“When the client needs me to be somewhere, I just have to be there,” said one of the consultants Ms. Reid interviewed. “And if you can’t be there, it’s probably because you’ve got another client meeting at the same time. You know it’s tough to say I can’t be there because my son had a Cub Scout meeting.”

Some people fully embraced this culture and put in the long hours, and they tended to be top performers. Others openly pushed back against it, insisting upon lighter and more flexible work hours, or less travel; they were punished in their performance reviews.

The third group is most interesting. Some 31 percent of the men and 11 percent of the women whose records Ms. Reid examined managed to achieve the benefits of a more moderate work schedule without explicitly asking for it.

They made an effort to line up clients who were local, reducing the need for travel. When they skipped work to spend time with their children or spouse, they didn’t call attention to it. One team on which several members had small children agreed among themselves to cover for one another so that everyone could have more flexible hours.

A male junior manager described working to have repeat consulting engagements with a company near enough to his home that he could take care of it with day trips. “I try to head out by 5, get home at 5:30, have dinner, play with my daughter,” he said, adding that he generally kept weekend work down to two hours of catching up on email.

Despite the limited hours, he said: “I know what clients are expecting. So I deliver above that.” He received a high performance review and a promotion.

What is fascinating about the firm Ms. Reid studied is that these people, who in her terminology were “passing” as workaholics, received performance reviews that were as strong as their hyper-ambitious colleagues. For people who were good at faking it, there was no real damage done by their lighter workloads.

It calls to mind the episode of “Seinfeld” in which George Costanza leaves his car in the parking lot at Yankee Stadium, where he works, and gets a promotion because his boss sees the car and thinks he is getting to work earlier and staying later than anyone else. (The strategy goes awry for him, and is not recommended for any aspiring partners in a consulting firm.)

A second finding is that women, particularly those with young children, were much more likely to request greater flexibility through more formal means, such as returning from maternity leave with an explicitly reduced schedule. Men who requested a paternity leave seemed to be punished come review time, and so may have felt more need to take time to spend with their families through those unofficial methods.

The result of this is easy to see: Those specifically requesting a lighter workload, who were disproportionately women, suffered in their performance reviews; those who took a lighter workload more discreetly didn’t suffer. The maxim of “ask forgiveness, not permission” seemed to apply.

It would be dangerous to extrapolate too much from a study at one firm, but Ms. Reid said in an interview that since publishing a summary of her research in Harvard Business Review she has heard from people in a variety of industries describing the same dynamic.

High-octane professional service firms are that way for a reason, and no one would doubt that insane hours and lots of travel can be necessary if you’re a lawyer on the verge of a big trial, an accountant right before tax day or an investment banker advising on a huge merger.

But the fact that the consultants who quietly lightened their workload did just as well in their performance reviews as those who were truly working 80 or more hours a week suggests that in normal times, heavy workloads may be more about signaling devotion to a firm than really being more productive. The person working 80 hours isn’t necessarily serving clients any better than the person working 50.

In other words, maybe the real problem isn’t men faking greater devotion to their jobs. Maybe it’s that too many companies reward the wrong things, favoring the illusion of extraordinary effort over actual productivity.

How Some Men Fake an 80-Hour Workweek, and Why It Matters

Since a white police officer, Darren Wilson fatally shot unarmed black teenager, Michael Brown, in a confrontation last August in Ferguson, Mo., there have been many other cases in which the police have shot and killed suspects, some of them unarmed. Mr. Brown's death set off protests throughout the country, pushing law enforcement into the spotlight and sparking a public debate on police tactics. Here is a selection of police shootings that have been reported by news organizations since Mr. Brown's death. In some cases, investigations are continuing.

Photo
 
 
The apartment complex northeast of Atlanta where Anthony Hill, 27, was fatally shot by a DeKalb County police officer. Credit Ben Gray/Atlanta Journal Constitution

Chamblee, Ga.
Fatal Police Shootings: Accounts Since Ferguson

From sea to shining sea, or at least from one side of the Hudson to the other, politicians you have barely heard of are being accused of wrongdoing. There were so many court proceedings involving public officials on Monday that it was hard to keep up.

In Newark, two underlings of Gov. Chris Christie were arraigned on charges that they were in on the truly deranged plot to block traffic leading onto the George Washington Bridge.

Ten miles away, in Lower Manhattan, Dean G. Skelos, the leader of the New York State Senate, and his son, Adam B. Skelos, were arrested by the Federal Bureau of Investigation on accusations of far more conventional political larceny, involving a job with a sewer company for the son and commissions on title insurance and bond work.

The younger man managed to receive a 150 percent pay increase from the sewer company even though, as he said on tape, he “literally knew nothing about water or, you know, any of that stuff,” according to a criminal complaint the United States attorney’s office filed.

The success of Adam Skelos, 32, was attributed by prosecutors to his father’s influence as the leader of the Senate and as a potentate among state Republicans. The indictment can also be read as one of those unfailingly sad tales of a father who cannot stop indulging a grown son. The senator himself is not alleged to have profited from the schemes, except by being relieved of the burden of underwriting Adam.

The bridge traffic caper is its own species of crazy; what distinguishes the charges against the two Skeloses is the apparent absence of a survival instinct. It is one thing not to know anything about water or that stuff. More remarkable, if true, is the fact that the sewer machinations continued even after the former New York Assembly speaker, Sheldon Silver, was charged in January with taking bribes disguised as fees.

It was by then common gossip in political and news media circles that Senator Skelos, a Republican, the counterpart in the Senate to Mr. Silver, a Democrat, in the Assembly, could be next in line for the criminal dock. “Stay tuned,” the United States attorney, Preet Bharara said, leaving not much to the imagination.

Even though the cat had been unmistakably belled, Skelos father and son continued to talk about how to advance the interests of the sewer company, though the son did begin to use a burner cellphone, the kind people pay for in cash, with no traceable contracts.

That was indeed prudent, as prosecutors had been wiretapping the cellphones of both men. But it would seem that the burner was of limited value, because by then the prosecutors had managed to secure the help of a business executive who agreed to record calls with the Skeloses. It would further seem that the business executive was more attentive to the perils of pending investigations than the politician.

Through the end of the New York State budget negotiations in March, the hopes of the younger Skelos rested on his father’s ability to devise legislation that would benefit the sewer company. That did not pan out. But Senator Skelos did boast that he had haggled with Gov. Andrew M. Cuomo, a Democrat, in a successful effort to raise a $150 million allocation for Long Island to $550 million, for what the budget called “transformative economic development projects.” It included money for the kind of work done by the sewer company.

The lawyer for Adam Skelos said he was not guilty and would win in court. Senator Skelos issued a ringing declaration that he was unequivocally innocent.

THIS was also the approach taken in New Jersey by Bill Baroni, a man of great presence and eloquence who stopped outside the federal courthouse to note that he had taken risks as a Republican by bucking his party to support paid family leave, medical marijuana and marriage equality. “I would never risk my career, my job, my reputation for something like this,” Mr. Baroni said. “I am an innocent man.”

The lawyer for his co-defendant, Bridget Anne Kelly, the former deputy chief of staff to Mr. Christie, a Republican, said that she would strongly rebut the charges.

Perhaps they had nothing to do with the lane closings. But neither Mr. Baroni nor Ms. Kelly addressed the question of why they did not return repeated calls from the mayor of Fort Lee, N.J., begging them to stop the traffic tie-ups, over three days.

That silence was a low moment. But perhaps New York hit bottom faster. Senator Skelos, the prosecutors charged, arranged to meet Long Island politicians at the wake of Wenjian Liu, a New York City police officer shot dead in December, to press for payments to the company employing his son.

Sometimes it seems as though for some people, the only thing to be ashamed of is shame itself.

Finding Scandal in New York and New Jersey, but No Shame
Frontline  An installment of this PBS program looks at the effects of Ebola on Liberia and other countries, as well as the origins of the outbreak.
Frontline

Frontline An installment of this PBS program looks at the effects of Ebola on Liberia and other countries, as well as the origins of the outbreak.

The program traces the outbreak to its origin, thought to be a tree full of bats in Guinea.

Review: ‘9-Man’ Is More Than a Game for Chinese-Americans

A variation of volleyball with nine men on each side is profiled Tuesday night on the World Channel in an absorbing documentary called “9-Man.”

Television

‘Hard Earned’ Documents the Plight of the Working Poor

“Hard Earned,” an Al Jazeera America series, follows five working-class families scrambling to stay ahead on limited incomes.

Review: ‘Frontline’ Looks at Missteps During the Ebola Outbreak

Ms. Plisetskaya, renowned for her fluidity of movement, expressive acting and willful personality, danced on the Bolshoi stage well into her 60s, but her life was shadowed by Stalinism.

Maya Plisetskaya, Ballerina Who Embodied Bolshoi, Dies at 89

A lapsed seminarian, Mr. Chambers succeeded Saul Alinsky as leader of the social justice umbrella group Industrial Areas Foundation.

Edward Chambers, Early Leader in Community Organizing, Dies at 85

Ms. Pryor, who served more than two decades in the State Department, was the author of well-regarded biographies of the founder of the American Red Cross and the Confederate commander.

Elizabeth Brown Pryor, Biographer of Clara Barton and Robert E. Lee, Dies at 64

Ms. Rendell was a prolific writer of intricately plotted mystery novels that combined psychological insight, social conscience and teeth-chattering terror.

Ruth Rendell, Novelist Who Thrilled and Educated, Dies at 85

WASHINGTON — The last three men to win the Republican nomination have been the prosperous son of a president (George W. Bush), a senator who could not recall how many homes his family owned (John McCain of Arizona; it was seven) and a private equity executive worth an estimated $200 million (Mitt Romney).

The candidates hoping to be the party’s nominee in 2016 are trying to create a very different set of associations. On Sunday, Ben Carson, a retired neurosurgeon, joined the presidential field.

Senator Marco Rubio of Florida praises his parents, a bartender and a Kmart stock clerk, as he urges audiences not to forget “the workers in our hotel kitchens, the landscaping crews in our neighborhoods, the late-night janitorial staff that clean our offices.”

Gov. Scott Walker of Wisconsin, a preacher’s son, posts on Twitter about his ham-and-cheese sandwiches and boasts of his coupon-clipping frugality. His $1 Kohl’s sweater has become a campaign celebrity in its own right.

Senator Rand Paul of Kentucky laments the existence of “two Americas,” borrowing the Rev. Dr. Martin Luther King Jr.’s phrase to describe economically and racially troubled communities like Ferguson, Mo., and Detroit.

Photo
 
Senator Marco Rubio of Florida praises his parents, a bartender and a Kmart stock clerk. Credit Joe Raedle/Getty Images

“Some say, ‘But Democrats care more about the poor,’ ” Mr. Paul likes to say. “If that’s true, why is black unemployment still twice white unemployment? Why has household income declined by $3,500 over the past six years?”

We are in the midst of the Empathy Primary — the rhetorical battleground shaping the Republican presidential field of 2016.

Harmed by the perception that they favor the wealthy at the expense of middle-of-the-road Americans, the party’s contenders are each trying their hardest to get across what the elder George Bush once inelegantly told recession-battered voters in 1992: “Message: I care.”

Their ability to do so — less bluntly, more sincerely — could prove decisive in an election year when power, privilege and family connections will loom large for both parties.

Advertisement

Questions of understanding and compassion cost Republicans in the last election. Mr. Romney, who memorably dismissed the “47 percent” of Americans as freeloaders, lost to President Obama by 63 percentage points among voters who cast their ballots for the candidate who “cares about people like me,” according to exit polls.

And a Pew poll from February showed that people still believe Republicans are indifferent to working Americans: 54 percent said the Republican Party does not care about the middle class.

That taint of callousness explains why Senator Ted Cruz of Texas declared last week that Republicans “are and should be the party of the 47 percent” — and why another son of a president, Jeb Bush, has made economic opportunity the centerpiece of his message.

With his pedigree and considerable wealth — since he left the Florida governor’s office almost a decade ago he has earned millions of dollars sitting on corporate boards and advising banks — Mr. Bush probably has the most complicated task making the argument to voters that he understands their concerns.

On a visit last week to Puerto Rico, Mr. Bush sounded every bit the populist, railing against “elites” who have stifled economic growth and innovation. In the kind of economy he envisions leading, he said: “We wouldn’t have the middle being squeezed. People in poverty would have a chance to rise up. And the social strains that exist — because the haves and have-nots is the big debate in our country today — would subside.”

Continue reading the main story
 

Who Is Running for President (and Who’s Not)?

Republicans’ emphasis on poorer and working-class Americans now represents a shift from the party’s longstanding focus on business owners and “job creators” as the drivers of economic opportunity.

This is intentional, Republican operatives said.

In the last presidential election, Republicans rushed to defend business owners against what they saw as hostility by Democrats to successful, wealthy entrepreneurs.

“Part of what you had was a reaction to the Democrats’ dehumanization of business owners: ‘Oh, you think you started your plumbing company? No you didn’t,’ ” said Grover Norquist, the conservative activist and president of Americans for Tax Reform.

But now, Mr. Norquist said, Republicans should move past that. “Focus on the people in the room who know someone who couldn’t get a job, or a promotion, or a raise because taxes are too high or regulations eat up companies’ time,” he said. “The rich guy can take care of himself.”

Democrats argue that the public will ultimately see through such an approach because Republican positions like opposing a minimum-wage increase and giving private banks a larger role in student loans would hurt working Americans.

“If Republican candidates are just repeating the same tired policies, I’m not sure that smiling while saying it is going to be enough,” said Guy Cecil, a Democratic strategist who is joining a “super PAC” working on behalf of Hillary Rodham Clinton.

Republicans have already attacked Mrs. Clinton over the wealth and power she and her husband have accumulated, caricaturing her as an out-of-touch multimillionaire who earns hundreds of thousands of dollars per speech and has not driven a car since 1996.

Mr. Walker hit this theme recently on Fox News, pointing to Mrs. Clinton’s lucrative book deals and her multiple residences. “This is not someone who is connected with everyday Americans,” he said. His own net worth, according to The Milwaukee Journal Sentinel, is less than a half-million dollars; Mr. Walker also owes tens of thousands of dollars on his credit cards.

Continue reading the main story

But showing off a cheap sweater or boasting of a bootstraps family background not only helps draw a contrast with Mrs. Clinton’s latter-day affluence, it is also an implicit argument against Mr. Bush.

Mr. Walker, who featured a 1998 Saturn with more than 100,000 miles on the odometer in a 2010 campaign ad during his first run for governor, likes to talk about flipping burgers at McDonald’s as a young person. His mother, he has said, grew up on a farm with no indoor plumbing until she was in high school.

Mr. Rubio, among the least wealthy members of the Senate, with an estimated net worth of around a half-million dollars, uses his working-class upbringing as evidence of the “exceptionalism” of America, “where even the son of a bartender and a maid can have the same dreams and the same future as those who come from power and privilege.”

Mr. Cruz alludes to his family’s dysfunction — his parents, he says, were heavy drinkers — and recounts his father’s tale of fleeing Cuba with $100 sewn into his underwear.

Gov. Chris Christie of New Jersey notes that his father paid his way through college working nights at an ice cream plant.

But sometimes the attempts at projecting authenticity can seem forced. Mr. Christie recently found himself on the defensive after telling a New Hampshire audience, “I don’t consider myself a wealthy man.” Tax returns showed that he and his wife, a longtime Wall Street executive, earned nearly $700,000 in 2013.

The story of success against the odds is a political classic, even if it is one the Republican Party has not been able to tell for a long time. Ronald Reagan liked to say that while he had not been born on the wrong side of the tracks, he could always hear the whistle. Richard Nixon was fond of reminding voters how he was born in a house his father had built.

“Probably the idea that is most attractive to an average voter, and an idea that both Republicans and Democrats try to craft into their messages, is this idea that you can rise from nothing,” said Charles C. W. Cooke, a writer for National Review.

There is a certain delight Republicans take in turning that message to their advantage now.

“That’s what Obama did with Hillary,” Mr. Cooke said. “He acknowledged it openly: ‘This is ridiculous. Look at me, this one-term senator with dark skin and all of America’s unsolved racial problems, running against the wife of the last Democratic president.”

G.O.P. Hopefuls Now Aiming to Woo the Middle Class

“It was really nice to play with other women and not have this underlying tone of being at each other’s throats.”

ay 4, 2015 ‘Game of Thrones’ Q&A: Keisha Castle-Hughes on the Tao of the Sand Snakes
harga berangkat umrah ramadhan di Utan Kayu Utara jakarta
biaya berangkat umrah januari di Utan Kayu Selatan jakarta
biaya umroh ramadhan di Pulogebang jakarta
biaya paket umrah januari di Ujung Menteng jakarta
harga paket berangkat umrah maret di Bambu Apus jakarta
paket promo berangkat umrah ramadhan di Lubang Buaya jakarta
paket promo umrah akhir tahun di Batuampar jakarta
paket berangkat umrah januari di Pekayon jakarta
biaya umrah juni di Pondok Kelapa jakarta
harga umroh april di Jatinegara jakarta
paket promo berangkat umroh awal tahun di Ciracas jakarta
biaya paket berangkat umroh juni di Pondok Kelapa jakarta
harga paket berangkat umrah juni di Pondok Kelapa jakarta
biaya umrah juni di Cililitan jakarta
paket umroh mei di Kebon Pala jakarta
paket promo berangkat umroh maret di Balekambang jakarta
promo umroh akhir tahun di Jatinegara jakarta
biaya umrah desember di Cipinang Cempedak jakarta
harga paket berangkat umroh juni di Kampung Tengah jakarta
harga berangkat umrah akhir tahun di Bidaracina jakarta
biaya paket berangkat umroh mei tangerang
harga paket umrah mei di Ciracas jakarta
biaya paket umroh mei di Matraman jakarta
paket promo umrah akhir tahun di Rawa Bunga jakarta
paket berangkat umroh mei di Utan Kayu Utara jakarta
promo berangkat umrah maret di Kebon Manggis jakarta
promo umrah maret di Cakung Timur jakarta
paket promo berangkat umroh maret di Bali Mester jakarta
harga paket umrah awal tahun di Bambu Apus jakarta
promo umroh februari di Pulogebang jakarta
promo umroh awal tahun di Kampung Gedong,Cijantung jakarta
promo umrah maret di Lubang Buaya jakarta
harga paket umroh februari di Cawang jakarta
biaya berangkat umroh januari umrohdepag.com
harga berangkat umrah januari di Lubang Buaya jakarta
paket promo umrah akhir tahun di Cipinang Muara jakarta
promo umrah mei di Rawa Terate jakarta
paket promo berangkat umrah ramadhan di Setu jakarta
promo berangkat umrah april di Pekayon jakarta
harga paket berangkat umroh desember di Kampung Gedong,Cijantung jakarta
harga paket umrah februari depok
biaya berangkat umrah akhir tahun di Makasar jakarta
harga paket berangkat umrah februari di Ciracas jakarta
promo umroh mei di Jati jakarta
harga berangkat umroh april tangerang
paket umroh akhir tahun di Dukuh jakarta
biaya umrah januari di Jatinegara jakarta
harga paket umrah januari di Kramat Jati jakarta
harga paket berangkat umroh mei di Cipinang jakarta
paket promo berangkat umrah januari di Pondok Kopi jakarta
promo umroh akhir tahun di Utan Kayu Selatan jakarta
paket promo umrah juni di Malaka Sari jakarta
paket promo umrah awal tahun di Halim Perdanakusuma jakarta
paket promo berangkat umrah awal tahun di Rawamangun jakarta
harga paket berangkat umrah januari di Kampung Tengah jakarta
paket umroh awal tahun di Makasar jakarta
paket promo berangkat umroh akhir tahun di Kebon Pala jakarta
biaya berangkat umroh ramadhan di Jatinegara jakarta
promo umrah februari di Rawa Bunga jakarta
harga paket umroh awal tahun di Matraman jakarta
biaya paket berangkat umrah ramadhan di Bidaracina jakarta
biaya paket umroh mei di Cipinang Besar Selatan jakarta
paket umrah maret di Cilangkap jakarta
harga berangkat umrah februari bekasi utara
harga berangkat umroh maret di Kramat Jati jakarta
paket promo umroh maret di Pondok Kopi jakarta
paket promo umrah akhir tahun di Ciracas jakarta
biaya umrah juni di Pisangan Baru jakarta
paket umrah juni di Cipinang Besar Utara jakarta
paket promo umroh januari di Pondok Kopi jakarta
harga berangkat umrah ramadhan di Kramat Jati jakarta
paket umrah akhir tahun di Cilangkap jakarta
paket umrah maret di Kampung Gedong,Cijantung jakarta
biaya paket berangkat umroh februari di Cipinang Besar Selatan jakarta
harga paket umroh februari di Kramat Jati jakarta
paket berangkat umrah februari di Kayu Putih jakarta
harga umrah april di Pondok Kelapa jakarta
harga paket umrah april di Ciracas jakarta
biaya paket berangkat umroh februari di Pondok Ranggon jakarta
harga umroh mei di Setu jakarta
promo berangkat umroh februari di Kayu Manis jakarta
harga umrah maret di Pondok Ranggon jakarta
harga umroh juni di Malaka Sari jakarta
biaya paket berangkat umrah april di Pisangan Timur jakarta
biaya paket berangkat umroh januari di Pisangan Timur jakarta
promo umrah mei di Utan Kayu Utara jakarta
harga berangkat umrah mei di Kampung Melayu jakarta
paket berangkat umroh juni di Cipayung jakarta
paket promo umroh ramadhan di Jati jakarta
promo umrah akhir tahun bekasi timur
biaya umroh ramadhan di Ujung Menteng jakarta
paket promo berangkat umroh awal tahun di Pisangan Timur jakarta
biaya berangkat umroh desember di Kampung Tengah jakarta
harga berangkat umroh juni umrohdepag.com
harga berangkat umroh maret di Cawang jakarta
biaya paket umroh februari di Rawa Bunga jakarta
harga umroh juni di Bambu Apus jakarta
biaya berangkat umroh ramadhan di Setu jakarta
promo umrah februari di Ciracas jakarta
biaya paket berangkat umrah februari di Kampung Melayu jakarta